Melestarikan Kearifan Lokal Kota Malang Melalui Festival Malang Tempo Doeloe

TerryCallier.net – Kota Malang sebagai kota pendidikan dan pariwisata tentunya memiliki ciri khas dan kearifan lokalnya tersendiri. Melirik perkembangan zaman yang begitu cepat, secara perlahan kearifan lokal di Kota Malang mulai tergerus dan luntur. Untuk mengatasi masalah lunturnya kearifan lokal tersebut, pemerintah dan masyarakat menggelar sebuah festival yang dikenal sebagai Festival Malang Kembali atau biasa disebut dengan Festival Malang Tempo Doeloe (MTD). Festival ini menjadi festival paling terkenal di Kota Malang dan ramai dikunjungi juga oleh wisatawan luar Kota Malang maupun wisatawan asing.

Festival ini turut melestarikan berbagai macam kearifan lokal mulai dari tarian tradisional, kesenian topeng malang, makanan tradisional, hingga permainan tradisional. Berbagai macam kearifan lokal tersebut menjadi ciri khas Kota Malang yang tentunya harus dilestarikan. Festival ini bermanfaat bagi warga Kota Malang untuk mengingat kembali jati diri serta identitas sebagai warga Kota Malang.

Festival Malang Kembali ini digelar pertama kali pada 2006 di Simpang Balapan Kota Malang dan pada awalnya festival ini diharapkan mampu digelar dua tahun sekali. Namun, berbagai kendala selalu terjadi dan pada akhirnya festival ini diadakan secara tidak menentu. Festival ini dilaksanakan pada 2006, 2008, 20011, 2014, dan 2017, terkhusus untuk MTD 2014, festival ini dilangsungkan dengan skala kecil dan tidak seperti pada gelaran tahun-tahun lainnya.

Secara teknis, festival ini dilangsungkan di Simpang Balapan Kota Malang danĀ  mengundang seluruh

warga Kota Malang untuk hadir mengenakan pakaian tempo dulu. Di festival ini dilangsungkan berbagai macam pertunjukkan seperti Panggoeng Orkestra, Panggoeng Wajang, Panggoeng Loedroek, Panggoeng Dolanan, Panggoeng Islami, Panggoeng Kentroeng, Panggoeng Jaranan, Panggoeng Lajar Tantjep, Panggoeng Keroncong dan Panggoeng Band Lawas. Selain acara panggung, warga Kota Malang juga dapat menikmati dolanan (permainan) tradisional, menikmati makanan tempo dulu, dan menonton bioskop klasik.

Festival ini tidak pernah sepi peminat dan selalu ramai setiap tahunnya karena menjadi wadah nostalgia bagi warga Kota Malang dan sebagai bentuk penghargaan serta refleksi diri terhadap budaya-budaya yang sudah diwariskan oleh nenek moyang. Berbagai kalangan usia mulai dari anak-anak hingga manula hadir di festival ini bersama-sama merefleksi diri tentang jati diri serta kearifan lokal Kota Malang.

Meskipun di tahun 2019 festival ini tidak dilaksanakan, festival serupa dengan skala kecil juga di adakan di berbagai wilayah di Kota Malang setiap tahunnya seperti Malang Artnival, Festival Tong-Tong Night Market, Festival Lawang Kota Tua, dan Festival Oeklam-Oeklam Heritage Kayutangan.

Jika ditinjau dari nilai-nilai pancasila, festival MTD dan festival-festival kebudayaan lainnya yang ada di Kota Malang, merupakan cerminan menjunjung tinggi sila ke ketiga. Rasa persatuan bangsa dapat timbul ketika warga Kota Malang yang berasal dari berbagai macam suku, ras, dan agama, dapat disatukan kembali dengan budaya-budaya lokal yang merupakan cerminan dari jati diri Bangsa Indonesia.

Harapannya kedepan, festival MtD dan festival lainnya bisa dirutinkan karena dinilai berhasil menumbuhkan rasa cinta dengan kebudayaan lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *